Minggu, 12 Mei 2013

Tetap Kokoh Diterpa Arus Jaman

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh sobat nomor2
Takdir seseorang tak dapat ditebak entah berada di atas atau di bawah. Baik di kota atau di desa tak jarang ada seseorang yang hidup dengan berkecukupan atau bahkan kurang dari itu. Seperti halnya pedagang pinggiran, entah apalah itu namanya yang jelas mereka berusaha mencari nafkah demi menghidupi keluarganya. Seperti halnya orang yang saya ceritakan satu ini, Cak No begitu orang-orang memanggilnya.

Cak No si penjual keliling
Tinggal di desa Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur beliau adalah seorang penjual jajanan keliling jajanan tradisional. Entah sejak kapan beliau menggeluti pekerjaan ini, yag saya tahu sejak kecil orang ini sudah malang melintang menjajakan dagangannya di daerahku. Kata tetanggku sih mungkin sudah ada sejak tahun 80an. Kalau dikira-kira beliau beliau sudah berdagang selama 30 tahunan.

Dengan sepeda dan gerobak yang kelihatan sama dari tahun ke tahun Cak No tidak pernah lelah ataupun bosan dengan pekerjaannya ini. Cak No menjual makanan tradisional seperti donat, donat tepung, jemblem, roti goreng, pisang goreng, molen dan klanthing. Tak jarang Cak No juga menjual jajanan lain yang sekiranya membuat laku dagangannya. Kata tetangga saya yang sudah sepuh (lanjut usia), dulu harga dagangannya hanya sebesar Rp. 25,- dan seiring dengan bertambahnya jaman sampai sekarang mencapai Rp. 500,-. Sungguh terbilang terjangkau jika dilihat rata-rata kehidupan ekonomi masyarakat saat ini.

Walaupun tidak setiap hari, saya sempatkan untuk membeli dagangannya. Alasannya? kadang memang benar-benar lapar atau merasa kasihan karena kelihatan dari kaca plastik gerobak kalau jajanannya masih menumpuk. Jika bukan kita siapa lagi yang akan membeli makanan seperti itu? Makanan yang sudah mulai tergeser oleh jajanan modern warna-warni dan lebih disukai anak-anak. Memang begitulah hajat seorang pedagang, ada masanya dagangan mereka laris dan tak dipungkiri tak laku.

Saya kurang mengetahui kehidupan keluarga Cak No, apakah beliau termasuk keluarga yang kekurangan atau tidak. Jelas yang saya tahu bahwa beliau merupakan pedagang yang tetap setia menjual dagangan tradisionalnya. Tak lekang oleh waktu, minor diantara mayornya jajanan modern. Mungkin hanya itu yang beliau bisa, mungkin hanya itulah kadar kemampuan beliau dalam mencari usaha. Oleh karena itu sobat nomor2, kalau anda melihat pedagang seperti ini entah itu di pinggiran kota, tengah kota, desa dan lain sebaginya bantulah mereka menyambung hidup walaupun anda tak terlalu butuh apa yang mereka jual. Insya Allah menimbulkan kebaikan, karena sedikit nilai yang kita berikan tentunya bermanfaat besar bagi mereka. Saya tutup cerita singkat ini dengan kalimat yang bagus dari teman Fb kita:

"Mereka tidak butuh sedekah dari anda, tapi mereka hanya butuh dagangan mereka dibeli. Sobat, jika anda bertemu pedagang asongan seperti ini bantulah mereka dengan membeli dagangan mereka meskipun kita tidak terlalu membutuhkan. Yakinlah, mereka berusaha untuk tidak menjadi peminta dan pengemis tapi mereka berusaha untuk keluarga mereka."
Share jika bermanfaat...

sumber:
pengalaman pribadi
kumpulan gambar dari internet

27 komentar:

  1. kalau di Malaysia, Alhamdulillah...kami masih berkesempatan merasa kesenangan negara walaupun tidak sekaya yg lain,

    sedekah adalah amalan yg paling mudah kita raih pahalanya, membantu yg susah adalah kewajipan masyarakat yg mampukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya rasa orang Malaysia lebih makmur dan sejahtera dibanding di Indonesia..

      Betul, orang mampu lebih utama buat bantu yg susah, tapi meski kekurangan bolehlah kita budayakan bersedekah.. ^^
      Thanks Cik Gu KY ^^

      Hapus
  2. Berusaha,Tekun dan berdoa Insya Allah...Allah akan mencukupi kebutuhannya. Itulah janji Allah kpd hambaNya yg mau bersabar.


    Oalah arek sidoarjo toh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Allah telah menetapkan rezeki kita masing2 asalkan berikhtiar..

      Kalo Ukhti tahu brarti dekat donk ya?

      Hapus
  3. Saya juga terkadang malu melihat penjual tradisional seperti itu, walau tidak dengan pengetahuan yang lebih namun mereka memiliki hati yang mulia, mereka masih mau bersusuah-susah mencari nafkah untuk keluarganya tercinta. Kita lebih banyak mengeluh sementara mereka lebih banyak bekerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar yg bagus dari Mas Abbas ^^
      Memang kita mudah mengeluh sedangkan ada yg lebih susah dari kita namun lebih bersyukur..
      Makasih

      Hapus
  4. Saya lebih prefer ke jajanan tradisional daripada yang modern...selain lebih aman karena tidak pake warna2 gak jelas, juga berasa lebih enak...dan kalau di tasik saya suka jajan yang, aduh saya gak tahu apa namanya, itu tuh makanan warna putih dari aci yang ditaburi kelapa sama gula pasir...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mas, lebih sehat dan aman kayaknya..
      Aci itu apa ya kalo boleh tahu?

      Hapus
    2. Setuju sekalian nostalgia jajanan bocah jadul: kuaci(biji bunga matahari gurih asin), permen Davos, gulali, permen telur cecak, permen karet yosan, kue sagon, lainnya udah lupa. Dari hasil pemeriksaan makanan tsb malah menyehatkan beda kalau sekarang lebih diutamakan penampilannya tanpa memperhatikan efek buruknya.

      Hapus
    3. aci itu tepung yang punya daya rekat kaya cireng deh contoh makanan yang terbuat dari aci itu

      Hapus
    4. @Huda: Wah, ternyata masih hafal ya jajanan jadul, mungkin di tempatku gak selngkap disana.. ^^

      @Uyo: Oh, kalau itu aku menyebutnya tepung kanji.. betul gak?

      Hapus
  5. orang orang seperti Cak NO adalah teladan bagi kita tentang bagaimana bertahan hidup tanpa harus meminta minta,kalo bisa jangan suka menawar harga jualan orang seperti Cak No.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Mas, langsung beli aja soalnya sudah murah.. kalo bisa boronglah buat teman atau family

      Hapus
  6. Saya suka dengan kalimah terakhir ""Mereka tidak butuh sedekah dari anda, tapi mereka hanya butuh dagangan mereka dibeli. Sobat, jika anda bertemu pedagang asongan seperti ini bantulah mereka dengan membeli dagangan mereka meskipun kita tidak terlalu membutuhkan. Yakinlah, mereka berusaha untuk tidak menjadi peminta dan pengemis tapi mereka berusaha untuk keluarga mereka."

    terima kasih sahabat. membuatku terinspirasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus ya Mas Lukman? Kata ini terinspirasi dari salah satu kata2 fans page di fb ana..

      Hapus
  7. Alhamdulillah, memang lebih berminat bersedekah kpd penjual daripada yg meminta kosong :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul betul betul ^^

      lebih mulia orang yg berjualan yer.. ^^

      Hapus
  8. Give your other words please.. ^^V
    But I really tahnks for visit..

    BalasHapus
  9. Benar...
    Selama ini banyak orang di sekitar kita yang berusaha berbuat sesuatu untuk menyambung kehidupan...
    Sementara kita sibuk berkeluh kesah... T_T

    Semoga Allah mempermudah kita untuk memahami dan mengambil himah dari apa yang ada di sekitar kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah komentar yang bijak dari Ukhti Nayla,

      Semoga kita memperoleh hikmah dari kejadian sekitar..

      Aamiiiin..

      Hapus
  10. Salam Wahyu, personally, disini juga sering Nurul lihat orang Indonesia berjualan membuka warung tepi jalan atau gerai makan, ada juga yg sudah mendapat pr sini.. dimanapun juga, kalau kita baik dan berusaha, Insya'Allah, Rezeki tetap ada untuk kita.. kalau Nurul, tak kiralah dimanapun mereka berjualan asal jualannya kelihatan bersih, sudah pasti Nurul beli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Cik Nurul, kami menyebutnya PKL (Pedagang Kaki Lima) karena gerobak punya 3 kaki dan 2 lagi orang yang jual.. ^^

      Kebersihan memang hal yang utama, kalau tak bersih pasti tak sehat pula kan? ^^

      Hapus
    2. haha.. dua kaki lagi campur kaki sendiri ya^^... disini kadang kaki lima tu juga panggilan untuk beranda rumah :) kalau Buku lima itu simpulan bahasa untuk penumbuk.. haha

      Betul.. kebersihan itu memang harus diaplikasikan pada semua aspek, bukan sahaja makanan, malah dalam pertuturan seharian juga.

      Hapus
    3. hehe iyelah.. Cik Nurul dah paham betul ni.. ^^
      penumbuk itu apa ye?? kurang tahu saya..

      100 buat Cik Nurul!, memang kebersihan itu penting sangat..

      Hapus
  11. huiks~artikelnya menyentuh, pinter nulis kamu bro
    tak tunggu artikel2 lainnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alah Mas, cuma biasa aja kok, iya Mas kalo sempet baru nulis ndiri, kalau enggak baru copas sana-sini hihihi..

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya:
1. Gunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung
2. Jangan pakai link aktif/ spam
3. Iklan boleh, tapi 1 kali saja :)