Selasa, 07 Mei 2013

Kisah Khalifah Umar Yang Tanggungjawab Pada Rakyatnya

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..
Sobat nomor2 yang dirohmati Allah, kisah yang satu ini perlu kita renungkan bagaimana seharusnya tanggung jawab seorang pemimpin. Dengan begitu kita dapat mengaplikasikan dalam kehidupan keseharian kita, di dalam keluarga, di tempat kerja dan lain sebagainya. Semoga kisah ini bermanfaat..

+-+-+-+-+-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+- +-+-

Ilustrasi
Suatu malam, menjelang dini hari, Khalifah Umar ra. melakukan kebiasaan rutinnya, berjalan diiringi pengawal, "memata-matai" nasib rakyatnya, bahkan seringkali sampai ke wilayah pinggirn kota. Disebuah dusun kecil terpencil, sayup-sayup telinga Umar menangkap suara tangis bocah. Tak lama kemudian, tangisan berhenti, namun sebentar kedengaran lagi. Begitu seterusnya, sebentar bunyi, sebentar berhenti, bahkan kadang-kadang dengan suara memilukan hati.

Setelah Umar yakin arah suara tangis, pelan-pelan dia mendekati rumah gubuk, darimana tangis diyakini tersembunyi. Gubuk itu terbuat dari kulit kayu, sangat sederhana bahkan bolong disana-sini, sehingga dari luar orang dapat melihat tentang apa yang terjadi di dalamnya. Tampak seorang ibu, dengan wajah sendu menghadap ke sebuah tungku di atas panggangan api, persis seperti sedang memasak sesuatu. Sesekali ia menghadap tungku dan mengaduk-aduk sesuatu dalam kuali, namun sesekali lain mulutnya bicara pelan, melipur hati sang putra, "Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sesaat, sambil menunggu bubur segera masak."

Mendengar hibur sang ibu, si bocah dapat tertidur sesaat. Namun, tak lama bangun lagi, dan si anak menangis lagi. Si ibu kembali berlagak, pura-pura mengaduk tungku sambil menghibur pilu., "Diamlah wahai putraku. Tidurlah kamu, ibu sedang memasakkan makanan untukmu." Peristiwa itu terjadi berulang kali.

Melihat adegan ganjil ini, Khalifah umar ra. penasaran lantas bertanya dalam hati: apa gerangan yang dimasak itu? Dan kenapa olahan si ibu tak kunjung masak? Umar pelan-pelan mendekat, lantas tangannya mengetuk pintu pelan di daun pintu sambil mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum." Si ibu menjawab, "Wa'alaikumsalam," sembari membukakan pintu. Barangkali ia bertanya dengan penuh curiga, "untuk apa tengah malam ada lelaki asing bertamu ke rumahnya?"

Umar lantas bersegera melontarkan pertanyaan tentang apa yang sedang di masak si ibu, dan apa penyebab si putra tak henti-hentinya menangis pula. Dengan sedih pilu, si ibu menceritakan keadaannya, bahwa anaknya menangis karena kelaparan, dan yang diolah pun hanya sebongkah batu dengan tujuan untuk menghibur si anak belaka. Sebagai akhir cerita, si ibu dengan nada gemas kecewa lantas berkata, "Celakalah Amirul Mu'minin Umar Ibnul Khottob, yang membiarkan rakyatnya kelaparan."

Umar segera pergi, sambil meangis dalam hati, memohon ampun pada Ilahi, karena telah teledor dalam memimpin, sehingga ada rakyat lapar luput dari perhatiannya. Buru-buru ia pulang, mengambil dan memanggul gandum, lantas berjalan tertatih-tatih kembali menuju rumah ibu - anak yang kelaparan tadi.

Pengawal tak tega melihat Umar -- Khalifah sebuah negara kaya dengan wilayah membentang dari Hijaz di Saudi Arabia, bakan sampai Syam (Suriah) dan Mesir segala -- mengangkat sendiri karung gandum di tengah malam yang gelap gulita. Pengawal lantas menawarkan diri untuk menggantikannya, "Wahai Amirul Mu'minin, biar aku sajalah yang mengangkat karung ini."

Dengan terengah-engah Umar enggan memberiknnya, bahkan berkata, "Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti."

Akhirnya, sampailah Umar di rumah gubuk tadi. Sang Amirul Mu'minin lantas memasakkan sebagian gandum yang dibawanya, dan menyuruh ibu cukup menenangkan anaknya saja. Singkat kata, setelah bubur masak-tanak, ank-ibu penghuni gubuk dipersilahkan makan sekenyangnya.

Sejurus berikutnya, Umar pamit dengan tak lupa berpesan agar esok harinya anak dan ibu datang ke Baitul Mal menemui Umar untuk mendapatkan jatah makan dari negara. Ibu itu pun mengucapkan terima kasih, "Engkau lebih baik dibanding khalifah Umar," demikian ucapnya.

Umar pamit dengan segala bahagia dan duka campur aduk dalam dada. Sehari kemudian, datanglah ibu itu ke Baitul Mal, untuk meminta jatah tunjangan pangan bagi diri dan anaknya, Umar menyambut dengan senyum bahagia. Ketika ibu itu menyadari bahwa orang yang membantunya di malam buta adalah Umar sang Amirul Mu'minin, si ibu kontan terbelalak, kaget, gugup dan malu campur aduk di dada. Tetapi, manusia saleh, sederhana, Umar ibnul Khottob justru mendekat sambil mengatakn permohonan maafnya akibat teledor sehingga si ibu dan putranya kelaparan, justru lepas dari perhatian.

Sumber:
Comments
35 Comments

35 komentar:

  1. dizaman sperti sekarang ini rasanya sulit bagi kita menemukan tokoh pemimpin seperti khalifah Umar bin khatab.

    sungguh kita merindukannya :) trims sudah berbagi sob..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener tuh mas, sepertinya pejabat2 kita lalai akan hal ini..

      sama2 Mas ^^

      Hapus
  2. sedih cerita nie....banyak tauladannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Cik Normi, semoga pemerintah tahu masih banyak rakyat yang menderita

      Hapus
  3. Sejak di dongengkan kisah ini dulu pas masih kecil selalu pingin tanya krn terasa ganjil ceritanya, jika kutanyakan jawabannya ceritanya memang dari dulu udah spt itu jadinya sampai sekarang tidak puas. Yaitu kenapa tidak dari awal si ibu mendatangi Baitul Mal? apakah tidak tahu alamat baitul mal atau ditolak oleh petugas penjaga baitul mal krn dianggap tidak memenuhi syarat sbg penerima jatah(masalah prosedur dipersulit mungkin spt mesti laporan keterangan tidak mampu). Atau petugas bawahan Umar yg teledor tidak mencatatnya sbg penerima jatah atau karena rumah si ibu sangat jauh dari pemukiman shg tidak ada tetangganya yg mengetahui keadaannya shg tidak melaporkannya sbg penerima jatah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang waktu kecil kita tak begitu mengerti akan sesuatu begitulah jadinya.. Sama kayak pertanyaan Aisyah ra, waktu itu nabi bersabda "sesungguhnya di akhirat kita dibangkitkan dalam keadaan telanjang" lalu Aisyah yg masih muda bertanya intinya "lho apa tak merasa malu (sama orang sekitarnya) nabi?" Nabi menjawab kalau kita tak akan sempat merasa malu karena kita sibuk berpikir mengenai nasibnya sendiri2..

      Hapus
    2. Aku suka gaya blusukan yg dilakukan Umar RA sama spt pak Jokowi utk memeriksa kebenaran laporan dari bawahannya apakah udah sesuai atau ada yg luput dari pantauan spt si ibu tsb yg ternyata luput dari mendapat jatah makan Baitul Mal.

      Hapus
    3. Iya setuju banget sama idenya, andai pemerintah kita semua seperti itu..
      thanks ^^

      Hapus
  4. sangat kagum akan keteladan Umar RA, terima kasih mas bisa dijadikan renungan buat saya pribadi. mudah2an posting ini menjadi amal jariyah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiiin Ukhti Indah, renungan buat saya juga..

      Hapus
  5. Umar ra. sungguh mengagumkan :) alangkah beruntungnya kita apabila mempunyai pemimpin seperti beliau di zaman sekarang ini :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang py tapi cuma didaerah tertentu saja, ada yg terkenal ada juga yg tidak terkenal. Tentu saja ruang lingkupnya berbeda tidak mesti pejabat daerah misal CEO perusahaan yg perhatian pd karyawannya sampai tingkat bawah dsb. Jadi jangan menganggap dizaman sekarang ini tidak ada pemimpin spt Umar RA (ada tp mungkin kita tidak menyadari keberadaannya karena biasanya dia menolong secara sembunyi2: tangan kanan memberi tapi tangan kiri jangan sampai tahu).

      Hapus
    2. @Ukhti Ocky: Kita doakan agar pemimpin kita mau memperhatikan nasib rakyatnya.. Makasih ^^

      @Hanagi: Ia memang di tempat lain ada yg bertindak seperti Umar ra, tapi kebanyakan pemimpin kita kurang memperhatikan rakyatnya.. :(

      Hapus
    3. Kebanyakan sekarang yg bertindak spt Umar justru disingkirkan dari jabatannya krn tabiat rekan dan pesaingnya tidak baik cuma demi kekuasaan kepentingan pribadi dan golongannya. Didaerahku ada yg mengalaminya sob (maaf identitas rahasia) tapi sulit mengatasinya karena tidak punya bukti kuat mungkin perlu penanganan dari KPK melalui penyadapan telepon atau kamera pengintai. Ceritanya levelnya terlalu tinggi ya sob? biar aman komennya hati-hati saja hehe...

      Hapus
    4. Tentu ada saja orang seperti itu di negara kita, tapi kita tak boleh menggeneralisasi.. hanya orang2 bermanlah yg tahu bahwa memimpin itu tugas yg berat tanggungjawab dan resikonya..

      Hapus
  6. bg yg blom nikah ayo segera nikah dan ciptakan generasi seperti Umar... *smile

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pasti admin Rohis Fb udah pada nikah ya.. ^^

      Hapus
  7. Umar yang keras dan kuat, dengan segala kelembutan hatinya..

    Subhanallah..
    ^ ^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita dapat meneladani sifat2 baiknya.. ^^

      Hapus
  8. Subhanallah...

    Luar biasa umar.
    patus ditiru :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener sekali sob, jarang2 ada pemimpin detail seperti ini.. ^^

      Hapus
  9. sayyuduna umar bin khotob..keras.tegas, pemberani ,berhati mulya...sob..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantab komentarnya Mas.. ^^
      Makasih

      Hapus
  10. Umar kepemimpinannya keras, tegas, bijaksana, dan penyayang serta berhati mulia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga gak kalah mantab dari atasnya..
      T.A.K Mas ^^

      Hapus
  11. Sosok pemimpin terbaik yang ditarbiyah oleh Islam yg sangat pantas dijadikan teldan masa kini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu Umar AR sedangkan masa kini kurasa adalah Mahmoud Ahmadinejad (Presiden Iran) pantas dijadikan teladan perlu dicontoh para pemimpin negara-negara di dunia. admin: coba dibuat artikel ttg beliau.

      Hapus
    2. @Abbas : Sangat dianjurkan jadi teladan..

      @Humam : Iya beliau juga berani dan tegas.. Ide yg bagus, ditampung dulu ya sob ^^

      Hapus
  12. SubhanAllah, sampai begitu sekali kan sahabat Nabi memimpin :)
    Andailah pemimpin-pemimpin sekarang mengambil teladan khalifah-khalifah dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Bro!
      pemimpin kita perlulah berkaca pada orang terdahulu yg baik sifatnya..

      Hapus
  13. Pernah membaca kisah ini sebelumnya.. namun setiapkali membaca kisah ini, pasti menimbulkan rasa kagum dan insaf di hati Nurul, sangat sukar menemui pemimpin yang benar2 berjiwa rakyat zaman sekarang ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kisah ini sudah kita kenal sejak sekolah dan dakwah Islam.

      Kita berdoa saja supaya dapat pemimpin yang bisa mendekati Khalifah Umar... Amiiiin

      Hapus
  14. udh sering nih denger cerita khalifah umar,dia seorang sahabat yg memberi suri tauladan yg baik dan sebagai pemimpin,Khalifah Umar pun tau cara memperlakukan rakyatnya dg baik.Hmm,msih berharap ada yg spt itu di indonesia..mungkin cocok dg sikapnya pak jokowi,yg peduli nasib rakyat kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya udah mahsyur cerita ini Mas, memang udah langka pemimpin yg kayak gini..
      Pk Jokowi sepertinya lebih kredible dibanding pejabat yg lain..

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya:
1. Gunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung
2. Jangan pakai link aktif/ spam
3. Iklan boleh, tapi 1 kali saja :)

>> Add FB Admin