Rabu, 04 September 2013

Golongan Yang Berhak Menerima Zakat (Shodaqoh) Dalam Al-Qur'an


إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (٦٠) وَ
Sesungguhnya sedekah (zakat)[24] itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mu’allaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan[25], sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana[26] (Q.S. At Taubah : 60)


Sedekah salah satu tiang agama..
Orang yang meminta-minta itu sejatinya bukan termasuk orang yang berhak dishodaqohi atau dizakati, namun kita tak boleh menghardik (mengusir) mereka. Selain itu orang yang berniat zakat atau sedekah hendaknya diberikan langsung kepada orangnya (di rumahnya), bukan malah membagi-bagikan hingga menyebabkan ramai berebutan sampai jatuh pingsan. Lalu siapakah orang yang berhak disedekahi atau di zakati? Mari kita simak penjelasan ayat di atas berdasarkan keterangan seorang ustad..

Orang yang fakir
Orang fakir yaitu orang yang tidak mampu/sengsara (tidak mempunyai pekerjaan) disamping tidak punya tenaga untuk memenuhi penghidupannya, seperti orang tua jompo dan yang cacat badannya.

Orang yang miskin
Orang miskin adalah orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. Orang ini mampu bekerja namun penghasilannya tidak cukup memenuhi kehidupannya. Misalnya ada seseorang berpenghasilan 2 juta rupiah per bulan namun mempunyai 9 anak yang disekolahkan semua. Karena penghasilannya tidak cukup maka ia termasuk orang miskin yang boleh dizakati.

Amil/pengurus zakat
Orang yang diberi tugas menarik zakat dari masyarakat dan yang menyalurkannya kepada yang berhak atau orang yang sibuk mengurus zakat. Perlu diketahui Amil itu bukan orang atau panitia yang mengatasnamakan Lembaga. Amil itu ditunjuk oleh amirul mukminin (pemimpin umat Islam seluruh dunia). Seperti Nabi Muhammad atau khalifah sesudahnya.

Mu’allaf
Orang yang baru masuk Islam namun dalam keaadaan kekurangan. Jadi usahakan tidak memberikan zakat kepada mu'allaf yang hidupnya sudah berkecukupan (kaya), tapi berikanlah zakat kepada mu'allaf kekurangan. Selain itu orang yang sudah lama masuk Islam bukan termasuk mu'allaf. Misalkan orang yang sudah 2 tahun masuk Islam.

Untuk memerdekakan budak ( Fir Riqab )
Yakni budak-budak mukaatab (yaitu budak yang mengadakan perjanjian dengan tuannya) apabila ia  membayar uang sejumlah sekian maka ia akan bebas. Maka agar mereka dapat lepas dari perbudakan dibantu dari zakat. Budak ini kebanyakan terjadi di zaman Rasulullah, kalau jaman sekarang mungkin sudah tidak ada atau jarang sekali.

Orang islam yang terlilit hutang ( Gharimin )
Ghaarimin adalah orang yang berhutang dan tidak sanggup membayarnya. Orang yang mempunyai kredit barang seperti motor atau barang lainnya namun tidak bisa membayarnya bukan termsuk gharim. Contoh gharim misalnya orangtua yang berhutang kepada sekolah karena belum mampu membayar biaya anakya.

Dalam perjuangan di jalan Allah (fi sabilillah)
Di antaranya adalah para mujahidin yang sukarela berjuang menegakkan agama Allah atau untuk kepentingan pertahanan Islam dan kaum muslimin di mana mereka tidak mendapat gaji dari negara (baik mereka orang kaya maupun orang miskin). Misalkan Umar bin Khattab yang ketika itu mensedekahkan separuh hartanya sedangan Abu Bakar yang mensedekahkan seluruh hartanya untuk bekal peperangan.

Ibnu Sabil (musafir)
Ibnu Sabil adalah orang yang kehabisan perbekalan dalam perjalanan yang bukan maksiat sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Diberikan kepadanya shodaqoh atau zakat buat bekal di perjalanan.


Sumber:
penjelasan ustad
http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-at-taubah-ayat-50-61.html
Comments
29 Comments

29 komentar:

  1. wah berarti harus lebih hati2 nih dalam memberi zakat agar tidak salah sasaran. ^_^

    BalasHapus
  2. tanpa pengetahuan seperti ini, terkadang orang salah dalam hal zakat. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maka dari itu kita harus belajar Qur'an

      Hapus
  3. ane lebih enakan menggunakan amil zakat. Biar lebih merata aja.

    BalasHapus
  4. Saya lebih sreg bila menyampaikan langsung kepada orang yang ada di sekitar, atau keluarga yang membutuhkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesuai hadits Nabi, keluarga terdekat baru warga sekitar :)

      Hapus
    2. itu shadaqoh yc yg diutamakan keluarga terdekat,.klo zakat kyaknya lebih baik ke amil zakat,karna salah satu yg berhaq menerima zakat yaitu amilin,klo qt bagikan sendiri berarti g merata terhadap asnaf2 nya,,, maaf klo g salah yc,syukron

      Hapus
  5. budak di jaman sekarang tuh masih ada gak ya mas wahyu?
    kalo pembantu rumah tangga (termasuk TKI yg jd PRT) itu termasuk budak gak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin jarang Mas, kalau PRT kayaknya bukan mas, coz dianggap profesi pada saat ini.. ^^

      Hapus
  6. prioritas yg paling awal utk diberi zakat pd fakir,bner gak sob?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama saja sob, yg masuk golongan itu gpp.. ^^

      Hapus
  7. Terima kasih gan, ane jadi semakin paham nih..

    BalasHapus
  8. di dalam harta kita terselip hak orang lain, dengan berzakat kita membersihkan harta kita agar menjadi berkah :)

    BalasHapus
  9. Bagaimana dg zakat profesi? dulu gak ada istilah itu adanya cuma zakat fitrah dan zakat mal lainnya shodaqoh dan infak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ini saya kurang tahu Mas Bro, kebetulan dibawah ada yg jawab :)

      Hapus
  10. @Huda Gamu
    ikutan jawab ah :
    yg kutau zakat profesi hampir mirip dg PPh (pajak penghasilan),bedanya untuk PPh jumlah yg hrus dibayar akan semakin bnyk jika pnghasilannya semakin tinggi.Sementara zakat profesi cuma 2,5% dari penghasilan stlh dikurangi kebutuhan pokok.Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 1.500.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% X (1.500.000-1.000.000)=Rp 12.500 per bulan.jika dipikir2 pajak lebih memberatkan dibanding zakat lho..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm.. gitu ya.. saya kurang tahu sama yg seperti ini..

      Hapus
    2. Sama.. saya jg kurang tahu, setahuku zakat fitrah dibayar setahun sekali Ramadhan sebelum sholat ied wujudnya bahan makanan sebesar 2,5% (2,5 kg beras) lalu zakat Mal dibayar jk udah mencapai nisabnya dan mencapai setahun besarnya 2,5% sedangkan shodaqoh bisa dibayar kapan saja besarnya seikhlasnya gak harus 2,5% wujudnya jg tidak harus uang, lalu infak hanya ditujukan utk kepentingan masjid/mushola (jk salah mohon dikoreksi). Sedangkan yg disebut @Harum MF dihitung perbulan. sekarang pertanyaannya apakah ada zakat perbulan? apakah ada hadistnya ataukah nabi pernah memerintahkan membayar zakat perbulan? apa bedanya zakat profesi dengan zakat Mal?

      Hapus
    3. Iya makanya itu saya kurang tahu. memang ada yang menghitung hartanya per bulan terus disimpan, setelah mencapai 1 tahu dizakati. Tapi dalam prakteknya saya belum tahu juga gan..

      *NB: kalau belajar tafsir biasanya kata shodaqoh di Al-Qur'an kadang diartikan zakat gan..

      Hapus
  11. @Huda Gamu
    zakat profesi dibayar stlh seseorang memperoleh penghasilan,cth diatas klo pnghasilannya per bulan.Zakat profesi tujuannya juga membersihkan harta kita,tiap dapat pemasukan disisihkan sebagian untuk org2 yg kurang mampu.Memang pnghasilan beda2,ada yg gak perbulan juga.Tpi biar gmpg ngitungnya dibuat perbulan.Klo hadistnya kurang tau gan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih atas bantuannya, menjawab atasnya

      Hapus
    2. @Harum MF
      perhitungan perbulan tidak bisa diterapkan utk semua orang karena pengeluaran kebutuhan tiap orang berbeda misal gaji 2 jt py tanggungan 5 anak dengan yg hanya py 2 anak atau py penghasilan yg besarnya tidak menentu pasti yg kadang cukup kadang malah kurang. Sedangkan dlm zakat mal yg dihitung adl tabungannya dari penghasilannya, jika udah mencapai nisab & udah setahun baru wajib dikeluarkan zakatnya shg tidak memberatkan.kalo langsung dihitung perbulan ataupun pertahun tapi tidak memperhatikan pengeluaran harian krn py tanggungan anak atau hutang tentu memberatkan shg yg pas kurasa adl tabungannya bukan penghasilan scr langsung.(kalo salah dikoreksi ya? biar nambah ilmu utk semua yg baca komentar)
      @Wahyu
      diskusi kayak gini seru juga.

      Hapus
    3. Iya justru saya belum tahu, nanti tak tanya ke ahlinya dulu ya sob..

      Hapus
  12. Thanks Wahyu.. Posting ini sgt bermanfaat pada Nurul

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Cik, ni juga dapat dari seorang Ustad.. ^^

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya:
1. Gunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung
2. Jangan pakai link aktif/ spam
3. Iklan boleh, tapi 1 kali saja :)

>> Add FB Admin